Setelah Senja Berlabuh Bab 16 Kunci Kayu dan Gantungan Hati
Pagi setelah pesta perayaan itu, udara di desa terasa berbeda. Seolah dunia tahu bahwa sesuatu telah berakhir, namun juga bahwa sesuatu baru akan dimulai. Embun masih menempel di dedaunan, aroma tanah basah bercampur wangi kayu baru menyeruak dari rumah adat yang kini berdiri anggun di tengah halaman.
Elsa berdiri di teras, memegang secangkir kopi yang mulai dingin.
Rumah itu tidak lagi sunyi seperti dulu. Burung-burung sudah hinggap di atap, suara ibunya terdengar dari dapur, dan dari kejauhan, suara Adit memanggil tukang terakhir yang datang menurunkan peralatan.
Senyum tipis terlukis di wajahnya. Hari ini rumah itu benar-benar hidup.
“Dan pemiliknya juga,” terdengar suara Adit tiba-tiba dari sisi kanan, membuat Elsa hampir menumpahkan kopi.
“Sejak kapan kamu di situ?” tanyanya dengan nada setengah terkejut.
Adit tersenyum nakal. “Sejak kamu menatap kopi lebih lama dari matahari.”
Elsa hanya memutar mata, pura-pura kesal, meski bibirnya menahan senyum yang tak bisa disembunyikan.
Pagi itu mereka berdua mulai mengecek bagian-bagian kecil rumah untuk terakhir kalinya.
Pintu belakang, ukiran di tiang, dan terutama satu hal yang selama ini terasa hilang: kunci kayu lama milik ayah Elsa.
Kunci itu dulu digunakan untuk mengunci gudang kecil di belakang rumah tempat sang ayah menyimpan ukiran tangan.
Selama proses renovasi, benda itu hilang entah ke mana.
Namun pagi itu, seolah menjawab kenangan, Adit menemukannya di bawah tangga lama yang kini sudah diperbaiki.
“Lihat apa yang aku temukan,” ujarnya sambil memperlihatkan kunci kayu itu.
Adit memutar kunci di tangannya. “Lucu ya, kecil begini, tapi dulu ayahmu bilang jangan pernah dibuang. Katanya setiap rumah punya ‘pintu kenangan’.”
Elsa tersenyum samar. “Ayah memang suka berkata simbolik.”
“Dan kamu juga,” sahut Adit, menggoda.
Elsa pura-pura tak mendengar, meski pipinya memerah.
Mereka berjalan ke arah gudang kecil di belakang rumah.
Dindingnya masih asli tidak dipoles terlalu banyak, menyisakan warna alami kayu tua.
Elsa memegang kunci kayu itu, mencoba memasukkannya ke lubang kecil di pintu.
Dengan sedikit tekanan, terdengar bunyi klik.
Pintu terbuka perlahan, melepaskan aroma debu dan nostalgia.
Di dalam, masih tersimpan beberapa benda lama: bingkai foto hitam-putih, sebuah peti kecil, dan di dinding tergantung gantungan kunci kayu berbentuk hati.
Elsa mendekat. “Lucu,” ucapnya pelan, “aku bahkan lupa ayah pernah membuat ini.”
Adit memperhatikannya. “Gantungan hati itu sepasang. Aku pernah lihat satu lagi waktu kecil. Tapi kamu yang menyimpannya, kan?”
Elsa tersenyum kecil. “Ya Tuhan, benar juga.
Dulu kugantung di ranselku, tapi kupikir hilang waktu pindah ke kota.”
Ia menatap gantungan hati itu lebih dekat.
Permukaannya kasar, tapi bentuknya masih utuh. Di bagian belakang, terukir inisial kecil: E & A.
Elsa terdiam. Adit juga.
“Waktu kecil kamu yang ukir itu, kan?” tanya Adit lembut.
Elsa menatapnya lama. “Mungkin karena kayu tak butuh kata-kata untuk tetap kuat.”
Mereka duduk di lantai gudang itu beberapa saat tanpa bicara. Hanya suara angin dari luar yang masuk melalui celah pintu, membuat gantungan hati itu berayun lembut.
“Dulu aku selalu ingin pergi sejauh mungkin, mencari sesuatu yang baru,” lanjutnya pelan.
“Kupikir kalau bisa bekerja di luar negeri, aku akan menemukan versi terbaik dari diriku.
Tapi ternyata, yang kucari bukan tempat baru melainkan rasa yang membuatku ingin tinggal.”
Adit menatapnya dalam diam.
“Aku tetap akan menulis dan memotret,” sambung Elsa. “Tapi kali ini dari sini, dari rumah ini. Aku ingin menjadikannya studio sekaligus galeri budaya. Kalau dunia ingin melihat karyaku, biarlah mereka datang ke sini.”
Sore menjelang ketika mereka selesai merapikan gudang itu. Elsa menggantung kembali gantungan hati di tempat semula, lalu menuliskan papan kecil di atasnya:
‘Kunci Kayu dan Gantungan Hati Simbol Rumah yang Tak Pernah Tertutup.’
Ia mengangkat gantungan hati itu, menempelkannya sebentar di dadanya sendiri. “Kalau begitu, ini bukan hanya simbol rumah, tapi juga hati kita.”
Adit menatapnya penuh makna. “Keduanya dari kayu yang sama — kuat, tapi tetap perlu dirawat agar tak retak.”
Matahari mulai turun, langit berubah menjadi jingga keemasan. Mereka duduk di tangga belakang, menatap pemandangan desa yang perlahan diselimuti senja.
Adit menatapnya, lalu mengeluarkan sesuatu dari sakunya—sebuah gantungan kayu kecil, pasangan dari yang di dinding. Bentuknya sama, tapi di baliknya tertulis kata baru: E + A, Always Home.
Elsa tersenyum, memandang rumah yang kini berwarna keemasan di bawah cahaya senja.
Malam datang perlahan. Lampion-lampion sisa pesta masih bergoyang lembut di depan rumah. Elsa menggenggam kunci kayu di tangan kanan dan gantungan hati di kiri. Dua benda kecil, namun cukup untuk mengikat segalanya kenangan, kerja keras, air mata, cinta.
Elsa menatapnya lama, lalu berkata pelan, “Kalau begitu, ayo tulis bab berikutnya. Tapi kali ini, jangan ada jeda di antara kita.”
Adit tersenyum. Untuk pertama kalinya sejak proyek ini dimulai, wajahnya benar-benar tenang—seolah seseorang yang akhirnya menemukan rumahnya sendiri.
.png)
0 Response to "Setelah Senja Berlabuh Bab 16 Kunci Kayu dan Gantungan Hati"
Post a Comment