Setelah Senja Berlabuh Bab 12 Kontrak Kota yang Menanti
Pagi datang dengan sinar lembut yang memantul di genting rumah adat dan dinding kayu yang mulai cerah setelah pernis ulang. Suara langkah kaki tukang yang baru datang terdengar di halaman, dan aroma kopi hangat menyelinap ke kamar Elsa melalui jendela. Ia bangun dengan rasa yang campur aduk: kegembiraan atas keberhasilan restorasi, dan keraguan tentang tawaran besar yang masih tergantung di ruang pikirannya.
Elsa berjalan ke ruang makan di lantai bawah, di mana sang ibu sudah menanti dengan dua piring nasi hangat dan telur dadar. “Selamat pagi, dek,” sapanya lembut.
“Semalam kerjaannya bagus. Aku dengar banyak warga desa datang ke acara lampu taman.”
Elsa tersenyum tipis. “Ya, malam tadi terasa spesial.” Suaranya sedikit pelan. Ia menoleh ke jendela, melihat lampu-lampu taman yang masih hangat di halaman, meski hujan semalam membuat rumput lebih basah dari biasanya.
Ibunya menatap wajah Elsa. “Kamu terlihat sibuk dalam hati. Ada hal yang ingin kamu bicarakan?”
Elsa meneguk kopi perlahan. “Ibu… aku mendapat kontrak dari majalah di kota besar. Enam bulan di luar negeri.” Ia berhenti sebentar, menatap wajah sang ibu. “Mereka menunggu jawaban sebelum minggu depan.”
Jantung ibunya berdebar sedikit. Ia menyodorkan piring ke Elsa. “Itu kesempatan luar biasa, Elsa.”
“Aku tahu,” ucap Elsa. “Tapi rumah ini, semua yang kita mulai aku merasa belum selesai. Aku tak bisa pergi tanpa menyelesaikan bagian yang kita jaga bersama.”
Ibunya menunduk mengerti. “Rumah ini memang punya banyak arti untukmu dan untuk banyak orang di sini.”
Setelah sarapan, Elsa keluar ke halaman untuk melihat kembali proses restorasi. Kayu-baru dipasang, genting terakhir diganti, taman kecil mulai rapi semua memenuhi pandangannya. Namun di tengah pemandangan indah itu, pesan di ponselnya terus bergetar di saku: manajer majalah, email pengingat, deadline yang mendekat.
Adit tiba di halaman dengan roll gambar teknik di lengan, wajahnya cerah tetapi pandangannya tak luput dari Elsa. “Pagi,” sapaannya ramah. “Tim akan mulai pasang lampu pagar hari ini. Jadi kalau kamu mau foto, sekarang waktu bagus.”
Elsa mengangguk. “Baik. Aku mau ambil beberapa foto sebelum tukang mulai.” Ia mengangkat kamera. Namun alih-alih memotret, ia menatap Adit. “Dit tentang tawaran itu”
Adit berhenti, matanya tenang. “Aku tahu.” Ia membuka salah satu roll gambar dan menempelkan di meja di bawah pepohonan. “Kamu sudah berpikir banyak.”
Elsa menarik napas. “Aku takut. Jika aku pergi, aku takut kehilangan momen ini. Aku takut kehilangan kita.”
Adit menatapnya dalam. “Dan aku,” katanya pelan. “Tak ingin kamu merasa ditahan di sini. Aku tak menginginkan itu.”
Elisa menatap kayu yang tersebar di halaman; sinar matahari menembus celah awan, menciptakan bayangan pohon yang menari-nari. “Apa kita bisa kompromi?” tanyanya. “Selesaikan rumah ini, dokumentasikan semuanya, lalu kita lihat kontrak itu bersama?”
Adit tersenyum lembut. “Itu terdengar sangat masuk akal.” Ia menggulung gambar. “Aku akan bantu kapan pun kamu butuh. Dan kapan pun kamu siap, kita hadapi bersama.”
Mereka bekerja bersama sepanjang siang. Elsa memotret tukang yang mengikat balok kayu jati, panel ukiran yang hampir selesai, dan Adit yang memberi arahan. Setiap jepretan terasa seperti menyimpan sebuah cerita cerita tentang rumah, tentang akar mereka, tentang pilihan besar yang akan diambil.
Siang berubah sore. Matahari perlahan merunduk ke ufuk. Di dalam rumah, Elsa menerima panggilan video dari manajer majalah. Layar menampilkan wajah serius, tetapi ramah.
“Elsa, kami sangat ingin Anda mengambil proyek ini. Profile Anda sangat cocok.”
Suara di seberang berkata.
“Kami butuh jawaban minggu depan agar persiapan bisa dimulai.”
Elsa menatap layar, kemudian memalingkan pandangannya ke jendela yang menunjukkan area taman dengan lampu-pagar yang mulai dipasang. Dalam sekejap, ia melihat bayangan dirinya sendiri berdiri di situ fotografer kota yang merindukan akar. Gambar itu membuat dadanya sesak sedikit. Ia menutup panggilan setelah mengatakan
“Terima kasih, saya akan memberi jawaban secepatnya.”
Ketika panggilan selesai, ia duduk di ruang tamu, dan Adit datang dengan dua gelas teh. Ia menyerahkan satu ke Elsa. “Bagaimana?” tanyanya lembut.
Elsa meneguk teh. “Mereka masih menunggu.” Suaranya sangat pelan. Ia menatap Adit.
“Aku butuh waktu.”
Adit mengangguk. “Ambil waktu. Tapi ingat: apapun keputusanmu pergi atau tinggal aku di sini.”
Malam tiba, setelah tukang pulang, lampu taman menyala penuh. Cahaya kuning lembut memantul di panel kayu, di kaca lantai, dan di wajah Elsa yang duduk berdua dengan Adit di bangku taman. Angin malam membawa suara sawah yang basah, dan keduanya hanya diam untuk beberapa saat, menikmati keheningan yang ditoreh senja beberapa hari lalu.
Elsa menggenggam gantungan kunci kayu berbentuk kamera yang diberikan Adit dulu.
“Kontrak itu bisa jadi pintu ke dunia lain.” Ia menatap Adit.
“Tapi rumah ini adalah pintu ke bagian diriku yang hilang.”
Adit menggenggam tangannya.
“Kamu tak harus memilih antara dunia dan rumah meski mungkin untuk sementara. Tapi kamu harus memilih apa yang membuatmu utuh.”
Hujan rintik-rintik mulai turun, menetes di genting, mengiringi malam dengan nada lembut. Elsa berganti pandang antara rumah dan sawah. Ia tahu besok ia harus memberi jawaban kontrak kota yang menanti tak bisa ditunda selamanya.
Namun malam ini, di bawah lampu taman dan tetesan hujan, ia memilih berdiri di sini di tempat di mana akar dan impian bertemu. Adit di sampingnya, rumah di belakang, kamera menuju ke arah senja yang menghilang di balik sawah.
“Besok,” katanya akhirnya pelan, “aku akan memberi jawaban.”
Adit menatapnya dan tersenyum. “Dan aku akan menunggu.”
Malam itu, keputusan belum diambil. Tapi apa yang lebih penting sudah muncul: kepastian bahwa rumah ini, akar mereka, dan hubungan mereka bukan hanya bab. Mereka adalah landasan untuk langkah berikutnya apa pun yang akan datang.
.png)
0 Response to "Setelah Senja Berlabuh Bab 12 Kontrak Kota yang Menanti"
Post a Comment